Bisnis

Kemenperin: Industri Farmasi Dihimbau Mencari Alternatif Sumber Bahan Baku Impor

Supply Chain Integrity and Security (SCIS) is defined as a set of policies, procedures, and technologies used to provide visibility and traceability of products within the supply chain.

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kebutuhan bahan baku farmasi makin tertekan. Pasalnya, sepekan terakhir rupiah terus melemah, bahkan di akhir pekan ini, nilai tukar mata uang Garuda tersebut sudah mencapai level Rp 14.318 per dolar AS. Selain pelemahan rupiah, industri farmasi juga mendapat sentimen negatif dari virus corona yang berasal dari China. Alhasil, Kementerian Perindustrian pun menghimbau industri farmasi mulai cari alternatif sumber bahan baku dari negara lain karena adanya wabah virus corona. 

Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Farmasi (IKTF) Kementerian Perindustrian Muhamad Khayam bilang, himbauan tersebut dilakukan lantaran impor bahan baku obat dari China mencapai 60%. “Maka dengan adanya kasus virus corona dan pelemahan rupiah, Kemenperin menghimbau GP Farmasi untuk melakukan upaya mencari alternatif sumber bahan baku impor,” jelasnya kepada Kontan.co.id, Jumat (28/2). 

Khayam bilang, peralihan sumber bahan baku ke negara lain dijalankan untuk rencana jangka menengah dan panjang. Adapun pemerintah akan terus mendorong adanya investasi pada industri bahan baku obat. Perihal kemandirian pasokan bahan baku obat sudah mulai dikejar holding farmasi BUMN. Lewat sinergi penggabungan farmasi pelat merah, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) menargetkan akan menekan ketergantungan bahan baku obat (BBO) hingga 15% di 2021. 

Pasalnya, selama ini sekitar 90% bahan baku obat (BBO) KAEF masih diimpor dari China dan India. Oleh karenanya di 2021, impor bahan baku obat dapat ditekan menjadi 75%.