Gadgets

Keberadaan Apotek Sangat Strategis Selama Pandemi Covid-19

Ennui single-origin coffee crucifix, irony PBR squid sriracha. Kale chips slow-carb gastropub DIY, wayfarers Williamsburg lo-fi distillery +1 kitsch tofu Marfa beard.

JAKARTA – Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Umi Athiyah menuturkan, keberadaan apotek sangat strategis selama pandemi covid-19. Sebab apotek menyediakan kebutuhan khusus yang sama pentingnya dengan bahan pokok bagi masyarakat.

“Karena di dalam apotek itu ada obat. Posisi obat ini tidak sama dengan sembako. Kalau bahan pokok itu consumer goods, tetapi obat ini sebetulnya professional goods,” kata Umi dalam webinar bertajuk ‘Inovasi Teknologi dan Digitalisasi Pelayanan Kesehatan’, Sabtu (26/9).

Menurut Umi, kebutuhan obat-obatan selama pandemi bukan saja pada saat seseorang terserang penyakit. Tetapi juga dalam rangka menjaga sistem imun atau daya tahan tubuh untuk mencegah penyakit termasuk infeksi virus penyebab covid-19.

Berbeda dengan penyediaan kebutuhan pokok yang mungkin bisa dilakukan setiap orang, kebutuhan obat hanya bisa dilakukan apoteker. Mereka yang dapat bertanggung jawab dalam kesediaan, kualitas, dan penjelasan atas produk-produk kefarmasian.

“Apotek ini menjadi sangat strategis, apalagi dengan adanya pandemi ini. Karena orang takut berinteraksi langsung dengan dokter, takut memeriksakan diri ke rumah sakit karena takut bertemu pasien,” ujar Wakil Ketua Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia itu.

Di samping itu, dia berpendapat apoteker juga berperan strategis untuk memberi pemahaman kepada masyarakat tentang kebutuhan atas produk farmasi. Hal ini diperlukan, misalnya, untuk menghindari fenomena panic buying yang membuat kelangkaan produk tertentu.

“Ini sebetulnya suatu pembelajaran bahwa apotek itu menyediakan kebutuhan yang bukan sekadar inventory biasa. Ada kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan reguler, tetapi ada kebutuhan bahan farmasi dan alat kesehatan untuk emergency,” imbuhnya.

Potensi Telemedicine
Penggunaan telemedicine untuk memperoleh obat menjadi salah satu tren selama pandemi covid-19. Anggota American Telemedicine Association, Andi Saptono menyebut, tren global ini diperkirakan terus berlanjut meski situasi sudah normal kembali.

Menurut dia, setidaknya ada tiga pendorong tren telemedicine. Pertama, populasi tua secara global semakin banyak. Kedua, kemajuan teknologi pelayanan dengan platform digital. Ketiga, inisiatif pemerintah mendukung perkembangan telemedicine.

“Sementara untuk tantangannya kita harus pikirkan bagaimana caranya mengamankan data. Bagaimana caranya agar pasien dan klien itu bisa percaya kepada penyedia layanan kesehatan melalui telemedicine ini,” ungkapnya.

Ada tiga kategori pengguna utama telemedicine, yaitu kelompok usia muda, berpendapatan menengah ke atas, dan orang dengan kesibukan tinggi. Meski ini berdasarkan survei di Amerika Serikat, Andi berpendapat konsepnya sama di semua negara.

“Pasar global untuk telemedicine itu luar biasa besar. Ada peluang sebesar US$150 miliar di 2027. Tahun 2019 pasarnya adalah US$45 miliar. Waktu saya memberi presentasi tentang telemedicine di 2012, prediksi di 2019 adalah US$27 miliar. Tetapi kenyataannya sudah berganda,” ucap Andi. (Wandha Nur Hidayat)

About the author

redaksi

Add Comment

Click here to post a comment