Published On: Thu, Feb 23rd, 2017

Keselamatan Apoteker untuk Keselamatan Pasien Kanker

Share This
Tags

Fauzan Arafat, S.Si., Apt bersama kolega Steve Stricker dari Samford University (Foto: Istimewa / FB: Fauzan Arafat)

“Menyiapkan pelayanan aseptik dispensing di rumah sakit” menjadi judul presentasi Fauzan Arafat, S.Si., Apt, Penanggungjawab Pelayanan Farmasi RSCM pada “Workshop Safe Handling of Cytotoxic Drug”. Diawali video pada presentasinya dan dilanjutkan paparan Permenkes No. 58 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit terkait dispensing sediaan steril, Fauzan menggarisbawahi slide presentasinya pada kata Instalasi Farmasi dan teknik aseptik.

Fauzan, apoteker alumni Sekolah Farmasi ITB ini memulai karirnya di RSCM sebagai apoteker pelaksana pada tahun 2009. Pada workshop kali ini, diberikan teori dan teknik bagaimana menyiapkan aseptic dispensing yang seharusnya dilakukan di rumah sakit.

“Kita harus tahu dan faham, apa itu pelayanan aseptic dispensing, kalau teorinya saja tidak tahu dan faham bagaimana kita mau melakukan,” ujar Fauzan. Apoteker yang tinggal di Depok ini menjelaskan bahwa dispensing sediaan bertujuan antara lain; menjamin agar pasien menerima obat sesuai dengan dosis yang dibutuhkan, menjamin sterilitas dan stabilitas produk, melindungi petugas dari paparan zat berbahaya dan menghindari terjadinya kesalahan pemberian obat.

Slide selanjutnya, Fauzan bertanya bagaimana menyiapkan pelayanan aspetic dispensing di rumah sakit. Apa itu Clean Room, Laminar Air Flow Cabinet, Biological Safety Cabinet, Perlengkapan Steril, Obat Steril dan Teknik Aseptik. Pria yang sudah menikah dan memiliki tiga orang anak ini menjelaskan dengan baik dan runut kepada peserta workshop.

“Sebagai apoteker yang bertugas menyiapkan obat sitostatika, terkait Standar Akreditasi Rumah Sakit, kita harus mengerti bagaimana Manajemen dan Penggunaan Obat yang seharusnya,” terang Fauzan yang sempat berkarir sebagai Logistic Officer di GlaxoSmithKline Pharmaceutical Laboratories ini.

Fauzan menambahkan bahwa banyak prosedur tetap yang harus disiapkan dan diikuti untuk mencapai tujuan pengobatan dan menghindari kejadian yang tidak diinginkan.

Labelling menjadi poin yang tidak boleh dilupakan. Label harus secara akurat menyebutkan isi, tanggal kadaluarsa dan peringatan. Sementara informasi yang harus tercantum pada label, antara lain: Identitas Obat Sitostatika / Label peringatan, rute pemberian, nama obat dan kekuatannya, pelarut yang digunakan, volume akhir, Nomor batch / nomor resep / tanggal, ED obat yang digunakan, kondisi penyimpanan, nama pasien, nomor MR, lokasi pasien, nama dan alamat tempat penyiapan obat sitostatika.

“Menarik dan menyenangkan, karena presentasinya diperkaya dengan video dan dipraktekkan langsung,” ungkap Dina Simbolon, Koordinator ISMAFARSI JABODELATA. “Bapaknya expert dibidangnya, jadi gak bosan, mungkin karena narasumbernya praktisi,” tambah Dina yang tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Pancasila ini.

Dina berharap agar kegiatan seperti ini sebaiknya dapat dilakukan di tempat-tempat lain juga dan dilakukan lebih sering karena cepatnya perkembangan ilmu kedokteran dan kefarmasian.

Workshop dihadiri oleh mahasiswa peserta Rakerwil XIII ISMAFARSI JABODELATA dan apoteker rumah sakit Provinsi Lampung. Sementara penyelenggara kegiatan adalah BEM Farmasi Universitas Tulang Bawang, selama tiga hari dari 17 hingga 19 Februari 2017.

“Creative Idea for Better ISMAFARSI”

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>