Published On: Fri, Dec 15th, 2017

Bintang Apoteker Indonesia Harus Bersinar…

Share This
Tags

Warta-Apoteker, Depok. Mungkin hampir seluruh apoteker Indonesia mengamini pepatah “DIAM ITU EMAS”. Salah satu “star” dalam The Role of The Pharmacist: “The Seven-Star Pharmacist” nya WHO adalah Communicator. Jarang sekali dijumpai apoteker yang fasih dan lugas menyampaikan ide dan gagasannya baik kepada sesama apoteker atau orang lain. Apoteker itu profesi yang memiliki kompetensi sangat tinggi. Tapi, kenapa hingga kini persepsi publik terhadap apoteker tidak semoncer alias meredup seperti profesi kesehatan lainnya, misalnya: dokter, dokter gigi atau bidan?

“Popularitas dan pengakuan masyarakat terhadap apoteker dibandingkan dokter dan profesi kesehatan lainnya tertinggal jauh. Sebab, apoteker itu ‘pendiam’ kurang berani tampil trengginas di ruang-ruang publik…padahal masyarakat haus informasi kefarmasian”, ujar Karyanto, Pakar Komunikasi Farmasi & Kesehatan, membuka pembicaraan dengan Warta Apoteker, Kamis 14 Desember 2017, di Depok, Jawa Barat.

Padahal, menurut Karyanto, Founder PT Global Medisina Indonesia, lembaga Konsultan Komunikasi Perusahaan & Profesi, bahwa sejatinya Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) telah memiliki Standar Kompetensi Apoteker Indonesia yang terdiri dari 10 (sepuluh) standar kompetensi. Salah satunya adalah kemampuan berkomunikasi.

“Apoteker itu luar biasa besar kontribusinya bagi bangsa dan negara. Mereka dapat membuat obat, baik dari bahan alam/sintetis. Menemukan obat baru. Coba para dokter-dokter di Rumah Sakit, di Klinik, di Puskemas, jika ditempat prakteknya tidak ada obat-obatan, apakah pasiennya mau jika dikasih gudeg, setelah diperiksa?” terang Karyanto, sambil tersenyum.

Dalam pandangan, Karyanto -alumni Sarjana Farmasi UGM- yang lebih 10 tahun berprofesi sebagai Wartawan- terakhir di media nasional Harian Ekonomi Bisnis Indonesia, dan pernah 10 tahun sebagai Kepala Komunikasi Perusahaan di Dexa Group ini, bahwa dengan kompetensi dan perannya yang sedemikian besar dalam pembangunan kesehatan nasional, seharusnya image/personal branding apoteker itu sejajar dengan profesi kesehatan lainnya.

Menurut IAI, ada 10 Standar Kompetensi Apoteker Indonesia (SKAI), yaitu: 01. Praktik kefarmasian secara profesional dan etik 02. Optimalisasi penggunaan sediaan farmasi 03. Dispensing sediaan farmasi dan alat kesehatan 04. Pemberian informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan 05. Formulasi dan produksi sediaan farmasi 06. Upaya preventif dan promotif kesehatan masyarakat 07. Pengelolaan sediaan farmasi dan alat kesehatan 08. Komunikasi efektif 09. Ketrampilan organisasi dan hubungan interpersonal 10. Peningkatan kompetensi diri Pada point 8 SKAI, lanjut Karyanto, Standart Kompetensi Apoteker adalah Komunikasi Efektif.

“Pada point 8 inilah semestinya program penguatan profesi apoteker digalakkan secara nasional. Jika kompetensi komunikasi efektif ini dapat dipenuhi para insan apoteker, maka dalam 5-10 tahun ke depan, brand apoteker akan melejit. Tentunya dengan program-program peningkatan kemampuan berkomunikasi apoteker secara komprehensif,” tegas Karyanto.

Berkomunkasi itu, tidak saja hanya di internal departemen, atau di institusi/perusahaan di mana para apoteker bekerja, tetapi berkomunikasi kepada stakeholders yang lainnya, seperti: kepada publik, kepada lembaga negara, kepada media. “Apoteker itu…..gimana ya…. belum menjadi media darling,” Karyanto memberikan penilaian.

Mantan Pemimpin Umum Majalah Mahasiswa Farsigama- Farmasi UGM tahun 1982-an itu menambahkan, bahwa adanya Pedoman Konseling Pelayanan Kefarmasian di Sarana Kesehatan dan Pedoman Pelayanan Kefarmasian di Rumah (Home Pharmacy Care) yang diterbitkan Kementerian Kesehatan, jelas mensyaratkan adanya kemampuan berkomunikasi yang baik dari para apoteker.

Apalagi, saat ini paradigma pelayanan kefarmasian bergeser dari berorientasi pada obat (drug oriented) ke ranah pelayanan kepada pasien (patient oriented)- yang mengacu pada prinsip Pharmaceutical Care. Jadi kompetensi apoteker terhadap penguasaan ilmu komunikasi menjadi keharusan.

Resep Belajar Komunikasi

Belajar komunikasi itu, relatif mudah jika dibandingkan belajar Kimia Medisinal, atau Kimia Sinstesa, misalnya. Pengajaran komunikasi dapat dilakukan melalui beragam metode, seperti: Jalur pendidikan formal/kuliah, Pelatihan Intensif, Workshop/Seminar, tergantung kebutuhan dan target pencapaiannya seperti apa. “Karena Ilmu Komunikasi itu juga luas, tentu dipilih modul komunikasi yang aplikatif dan cocok untuk profesi apoteker. Terlebih lagi di era digital saat ini, banyak kemudahan untuk berkomunikasi,” Karyanto menyarankan.

Yang juga sangat penting, adalah belajar komunikasi krisis, sebab produk farmasi yang langsung berinteraksi dengan tubuh manusia, maka ada sejumlah produk obat yang rentan menimbulkan efek samping bagi pasien. “Nah, pemahaman apoteker tehadap best practice Komunikasi Krisis menjadi sangat penting,” Karyanto mengingatkan.

Berita negatif tentang perusahaan/profesi dapat muncul secara mengejutkan. Mendadak mengancam reputasi dan membahayakan kelangsungan bisnis/profesi. Perencanaan Komunikasi Krisis dapat mereduksi dan bahkan dapat mendorong reputasi perusahaan pada level yang lebih tinggi.

“Perencanaan Komunikasi Krisis adalah faktor penentu untuk meredam berita negatif yang menimpa perusahaan/profesi. Kepiawaian menyusun strategic planning sering mampu mengubah situasi krisis menjadi apresiasi dan dukungan publik,” demikian tegas Karyanto-yang dalam waktu dekat akan menerbitkan buku bertema ‘Komunikasi Farmasi’ ini, mengakhiri wawancara. Untuk berkomunikasi dengan Karyanto dapat melalui Twitter: @MKaryanto

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>