Published On: Sun, Sep 2nd, 2018

Asian Games 2018: Doping itu bernama Furosemida

Share This
Tags

Cileungsi, Warta Apoteker. Dewan Olimpiade Asia (OCA) mengumumkan kasus doping pertama pada Asian Games 2018 yakni atas nama atlet gulat Turkmenistan Rustem Nazarov. Dalam sampel urinenya ditemukan unsur furosemide, yang termasuk unsur terlarang dalam daftar Badan Antidoping Dunia (WADA).

“Karena Indonesia tidak memiliki laboratorium doping,” terang Drs. Tommy Apriantono, M.Sc., Ph.D., Ketua Umum Asprov PSSI Jawa Barat periode 2017-2021 menjawab pertanyaan Warta Apoteker alasan sampel dikirim ke Doha. Tommy menjelaskan bahwa saat ini Qatar dan Jepang memiliki laboratorium doping terbaik di Asia. Sementara Thailand (Mahidol University) dan Malaysia (Penang) sedang menghadapi masalah. “Laboratorium doping harus terakreditasi, jika salah salah maka akan di-suspend selama tiga bulan. Diberi sampel lagi, bila masih salah, supend enam bulan, kalau salah lagi suspend dua tahun,” papar Tommy lebih lanjut.

Furosemida termasuk dalam kategori obat diuretik. Diuretik adalah obat yang membantu menghilangkan cairan tubuh dengan melumpuhkan sebagian reabsorbsi di ginjal sehingga urinasi meningkat. Diuretik yang kuat dapat meningkatkan aliran urin menjadi sekitar 6 liter per hari.

Diuretik dan agen masking lainnya adalah yang kelima dalam frekuensi penggunaan kelas obat oleh 6,7% dari semua temuan analitis yang merugikan di seluruh dunia. Zat yang paling sering digunakan adalah furosemide dan hidroklorotiazida sekitar 30% dari semua kejadian diuretik.

“Setiap tahunnya WADA mengeluarkan Prohibited List, substance-nya ada dalam list misalnya growth hormon. Tapi mereka (atlit dan offisial) pinter-pinter, ditutup-tutupi, tutup dengan A, tutup dengan B tutup dengan C, harus ditanya kenapa pakai C, kenapa pakai B, harus ada indikasi yang jelas dan pasti,” tutup Tommy mengakhiri perbincangan dengan Warta Apoteker.

Sementara itu dihubungi secara terpisah, Prof., Dr., Zullies Ikawati, Apt, Guru Besar Farmasi UGM menambahkan ada beberapa golongan yang dimasukkan sebagai obat doping : 1. Obat-obat anabolik steroid 2. Hormon peptida dan faktor pertumbuhan, 3. beta2 agonis, 4. modulator hormon dan metabolik, 5. diuretic dan masking agent.

“Harus digunakan instrumen analisis yg selektif dan sensitif agar bisa membedakan apakah yg terlihat “positif” itu sebenarnya benar-benar obat doping yg masuk di list di atas, atau hanya karena kemiripan gugus tertentu sehingga terdeteksi seolah positif,” papar Zullies. Untuk itu Zullies, mengingatkan kepada atlit dan ofisial agar berhati-hati untuk mengonsumsi obat bebas atau suplemen yang berasal dari herbal.

 

 

 

 

 

 

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>