Published On: Wed, Dec 31st, 2014

Apotek Profesi Mandiri

Share This
Tags
anita sari

Anita Sari, Apoteker (kanan) berfoto bersama dengan salah seorang koleganya yang juga dosen favoritnya di salah satu kegiatan ilmiah. (Foto: Istimewa / Koleksi pribadi Anita)

Bila Anda datang pertama kali ke Apotek Profesi Mandiri di Jln. M. Kahfi II, Srengseng Sawah maka segala sesuatu yang Anda ketahui tentang Apotek akan berbalik 180 derajat. Bagaimana tidak, Apotek Profesi Mandiri jauh dari keramaian, tidak berada pada jalur utama lalu lintas yang biasa dijadikan alasan untuk mendirikan sebuah apotek. Kecuali satu hal, Anda dapat bertatap muka dengan Apotekernya langsung, sesuatu yang langka yang dapat Anda jumpai di tanah air.  Studi kelayakan pendirian apotek tidak berlaku pada kasus ini.

Mengaku tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah menyelesaikan pendidikan profesi apoteker, Anita -begitu biasa dia disapa- mencoba mengikuti hidupnya seperti air mengalir. Berkesempatan bekerja di salah satu apotek jaringan di Jakarta, Anita sepertinya menemukan passion nya. Hingga pada satu kesempatan, Anita bertekad untuk memiliki apotek sendiri. Dan prinsipnya, satu orang apoteker harus punya satu apotek karena berpraktek di apotek sebagai apoteker adalah pekerjaan serius yang tidak bisa di-sambi, second job selorohnya.

Rupanya tekad saja tidak cukup, sehingga Anita masih terus mencari ilmu bagaimana mengelola apotek sebagai “Apoteker Praktek Bertanggungjawab” dan seperti bisa kita tebak, sulit sekali mencari apoteker panutan yang bekerja sebagai “apoteker” di apotek. Anita tidak mau distempel sebagai Apoteker Tekab (Teken Kabur), Apoteker Penampakan, Apoteker Dewa, Apoteker “Gadai” Ijazah dan istilah lainnya yang berkonotasi negatif.

“Apotek Profesi Mandiri Peduli Pasien, Bukan Cari Profit” (Anita Sari)

Bermodalkan salah satu ruangan di rumah dan uang sebesar Rp.4.500.000,00 (Empat juta lima ratus) untuk membeli obat sebagai persediaan, Anita memulai berpraktek sebagai apoteker dengan membuka apotek yang diberi nama Apotek Profesi Mandiri pada Agustus 2012 yang lalu. Jam praktek dari pukul 9 pagi hingga 9 malam setiap harinya. Apotek hanya buka bila Anita ada di rumah. “Karena orang-orang di sekitar apotek sudah saya beri nomor telpon apotek dan nomor HP saya, kadang-kadang ada saja pasien yang jam 5 pagi sudah telpon untuk membeli obat”, katanya diiringi tawanya yang renyah.

anita sari 1

Anita Sari, Apoteker (Foto: Istimewa / Koleksi pribadi Anita)

“Kalau sekarang sih sepertinya belum ya, insha Allah tahun depan. Rencananya, saya memang bisa menjadi Apoteker Keluarga, bisa ngejalanin Community Pharmacy-lah” jawabnya ketika Warta-Apoteker.Com menanyakan professional fee, Patient Medical Record kepada pasien yang datang ke apoteknya. Meski mengaku tidak melakukan marketing secara khusus, Anita mengakui bahwa apoteknya sudah dikenal di lingkungannya dan pasien yang datang pasti cari Apoteker.

Usahanya sebagai “apoteker” memang tidak bisa dibilang setengah-setengah, beberapa kegiatan ilmiah dan grup diskusi diikutinya meski harus merogoh koceknya lebih dalam. “Update ilmunya itu yang penting” ujar Anita serius yang mengaku sengaja mengikuti kegiatan Diskusi HISFARMA ISFI Jawa Barat di Bandung pada tahun 2006 – 2007an. “Sayang, sekarang saya tidak pernah tahu keberlangsungan diskusi tersebut. Ongkos transport Jakarta – Bandung – Jakarta lebih mahal dibandingkan kontribusi acaranya yang hanya Rp20.000,00 (Dua puluh ribu) setiap kali pertemuan” ungkap Anita.

“Dengan stand by di apotek, memaksa kita terus belajar, minimal baca text book, patient package inserts dari brosur atau leaflet obatApoteker juga bisa menjadi Guardian untuk kasus-kasus drug abuse & drug misuse di lingkungan sekitar apotek” paparnya ketika ditanya pentingnya keberadaan apoteker di apotek. “Gak mungkinlah kita jual kondom atau pil KB kepada orang yang datang ke apotek cuma karena ingin dapet uang, gak gw banget”

Sebagai apoteker, perjalanan hidupnya boleh dibilang cukup menarik dan unik. Pernah menjadi reporter di dua buah majalah kesehatan, apoteker di apotek jaringan dan apoteker di salah satu klinik milik Bank Indonesia serta manager di salah satu klinik perawatan di Bali membuatnya berani mengambil keputusan untuk membuka apotek.

Reporter & Editor: Ah. Subagiyo, Apoteker

 

About the Author

- Saya dapat dihubungi di Ahmad@Subagiyo.Com

Displaying 4 Comments
Have Your Say
  1. ardi says:

    Modal beli obat 4,5 juta dapat obat apa aja tuch mas? Emangnya bisa buka apt dg obt modal 4,5 juta. Jangan memberikan info yg menyesatkan

  2. Tom says:

    Selamat untuk Nita,
    saya juga apoteker (senior) yang berpraktik sendiri bersama rekan apoteker yg jauh lebih muda.
    Tempatnya di Apartemen pasiennya juga hampir tidak ada kecuali warga apartemen.
    Saya tidak “menjual” obat berbasis HET melainkan dg HNA ditambah Biaya Pelayanan Profesi berbasis perhitungan pasien dng standard akuntansi baku.
    Bila dijumlahkan< HET. Bila pabrik memberikan diskon, maka pasien menebus HNA minus diskonnya.
    Kaidah ini adalah kaidah ekonomi umum.
    Sementara pasien sih ok2 saja dengan cara perhitungan ini.

    Buka tutupnya sama dengan anda.
    Senag sekali bila bisa berkomunikasi.
    salam hangat,

    Tom

  3. yanti says:

    Hallo,saya juga seorang apoteker, saya juga ingin sekali memiliki praktek mandiri. Pak ahamad subagiyo apakah saya boleh minta alamat kontak bu anita seperti email? Untuk konsultasi & diskusi masalah awal pendirian praktek mandiri karena saya masih banyak butuh bimbingan & nasehat.
    Untuk pak tom, saya boleh minta alamat emailnya? 🙂 terima kasih sebelum nya semua.
    Salam,
    Yanti

  4. deasy says:

    Jadi terinspirasi pengen buka apoteker praktrk mandiri juga di rumah. Tapi dengan modal minim apa bisa ya.. Mslh nya persyaratan nya masih bisa, apa prktek mandiri boleh dengan persediaan obat yg sedikit bukannya pengajuan izin nya tetap hrs dlm bentuk apotek terlebih dahulu?coba klo misalkan perizinanny lebih longgar, apotek boleh praktek mandiri di rumah , tapi dengan konsep yg lebih simple dari sebuah apotek.jadi qta ga kesulitan memenuhi semua persyaratan yg di butuhkan agar keluar izin sebagai apotek..tapi sebagai apoteker praktek mandiri.

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>