Published On: Mon, Nov 7th, 2016

Aplikasi Farmasi Go-H! meningkatkan kepatuhan pasien

Share This
Tags

Saat ini kita tidak perlu takut lagi bila tidak ingat kapan waktu minum obat karena telah hadir aplikasi inovasi karya apoteker. “Aplikasi ini sengaja dibuat untuk mengingatkan waktu untuk minum obat bagi pasien,” ungkap Indri Mulyani Bunyamin, S.Farm., Apt bersemangat kepada Warta Apoteker.

Menurut apoteker lulusan Universitas Indonesia ini, seperti kebanyakan aplikasi lainnya, Farmasi H! (Farmasi Hai, red) sangat mudah digunakan. Tahap pertama yang harus dilakukan adalah mengunduh melalui Play Store bagi pengguna android dan melakukan registrasi. “Gak lama koq, untuk registrasi hanya perlu mengisi nama , e-mail, password dan nomor telpon, setelah itu kita langsung bisa gunakan aplikasinya,” terang Ibu yang memiliki dua orang putri yang cantik-cantik ini.

Farmasi H! juga menyiapkan konten artikel, video dan komik yang berhubungan dengan farmasi dan kesehatan. Untuk komik yang sudah dibuat berupa komik edukasi dengan tokoh Angela dan Devilla.

Fitur-fitur yang ada pada aplikasi Farmasi H!:
1. Memasukan data obat yang akan dikonsumsi
2. Menentukan waktu konsumsi obat sesuai dengan dosis
3. Mengatur rentang waktu konsumsi obat
4. Mengatur sediaan obat yang dikonsumsi
5. Pop Up pesan yang menampilkan waktu untuk mengkonsumsi obat
6. Video seputar kesehatan dan farmasi
7. Komik edukasi Angela dan Devilla

Sejarah dari dibuatnya aplikasi Farmasi H! ini adalah dari hasil temuan Unit Farmasi Puskesmas Kecamatan Kembangan Jakarta Barat dengan Tim GKM OBOR (Gugus Kendali Mutu Optimalkan Budaya Obat Rasional) yang telah melakukan riset pada medio Maret – Juni 2016 terhadap 85 kepala keluarga dan menemukan bahwa 48 kasus penggunaan obat tidak rasional, 22 kasus masyarakat yang masih menyimpan obat kadaluarsa, 13 kasus antibiotik yang tidak dihabiskan dan 7 kasus obat rusak serta 6 kasus obat ilegal (tanpa registrasi Badan POM).

Fakta ini sangat sesuai dengan data Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada tahun 2013, diperoleh data bahwa responden yang menyimpan obat keras sebanyak 35,7% dan obat antibiotik sebanyak 27,8%. Dari keprihatinan inilah, akhirnya Indri melakukan “action research” yang dapat langsung diterapkan terhadap kasus yang ditemukan.

“Intinya adalah kalau niat jangan gantung, kalau mau jangan nanggung”

Indri dan timnya telah mempresentasikan keberhasilan Farmasi H! ini pada ajang Rakernas & PIT Ikatan Apoteker Indonesia pada September 2016 yang lalu. “Kami sudah menerima apresiasi positif dari beberapa pihak seperti Kementerian Kesehatan, IAI serta dari luar negeri juga loh seperti Pharmaceutical Society of Sri Lanka,” jelas wanita kelahiran Sukabumi berapi-api.

Aplikasi ini akan sangat membantu untuk pasien-pasien kronis yang harus meminum obat setiap hari. “This is the best system to play vital role as pharmacist community! Good inovation and application for all,” remarked from Ms. Vindya Pathiraja (Pharmaceutical Society of Sri Lanka).

Hingga saat ini tidak kurang dari 10 inovasi yang sudah dihasilkan oleh Indri bersam Tim GKM OBOR Unit Farmasi Puskesmas Kecamatan Kembangan. “Intinya adalah kalau niat jangan gantung, kalau mau jangan nanggung,” seloroh Indri menutup wawancara dengan Warta Apoteker.

About the Author

- Saya dapat dihubungi di Ahmad@Subagiyo.Com

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>